Font Size

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Cuci Darah

  • PDF

Jika terjadi kerusakan pada ginjal, fungsi yang terganggu yaitu fungsi untuk mengeluarkan zat-zat yang tidak digunakan tubuh (zat sisa) dan fungsi hormon. Pada pasien gagal ginjal kronis maupun akut, ginjal tidak dapat melakukan kedua fungsi yang sangat penting ini, maka diperlukan terapi pengganti.

Cuci Darah atau yang lebih dikenal dengan hemodialisis adalah suatu terapi pengganti fungsi ginjal dengan menggunakan mesin cuci darah. Pada cuci darah fungsi ginjal yang digantikan adalah fungsi untuk mengeluarkan zat sisa tubuh.

Berikut merupakan proses singkat cuci darah. Cuci darah dilakukan dengan mengalirkan darah pasien ke dalam suatu tabung ginjal buatan (dialiser) yang terdiri dari 2 ruangan yang terpisah. Yang perlu diperhatikan disini adalah saat darah terpompa keluar dari tubuh, darah akan cenderung menggumpal, oleh karena itu diperlukan zat yang dapat mencegah agar darah tidak mengggumpal yaitu heparin. Darah pasien dipompa dan dialirkan ke ruangan darah yang dibatasi oleh selaput buatan dengan ruangan dialisat. Ruangan dialisat dialiri cairan dialisis yang bebas komponen bakteri, berisi larutan dengan komposisi elektrolit mirip seperti serum normal. Cairan dialisat dan darah pasien yang terpisah akan mengalami perubahan konsentrasi karena zat terlarut berpindah dari konsentrasi tinggi ke arah konsentrasi yang rendah sampai komposisi zat terlarut sama di kedua ruangan (proses difusi). Besar pori pada selaput buatan akan menentukan besar molekul zat terlarut yang berpindah. Molekul dengan berat molekul lebih besar akan berdifusi lebih lambat dibanding molekul dengan berat molekul lebih rendah. Darah pasien yang sudah tersaring dengan baik akan kembali ke dalam tubuh pasien.

Perlu diingat jumlah dan tekanan darah yang mengalir ke dialiser harus memadai sehingga perlu suatu akses khusus. Biasanya sebelum melakukan proses hemodialisis akan dibuatkan suatu akses khusus pembuluh darah biasanya untuk yang pertama kali melakukan cuci darah akan dipasang akses sementara yaitu pembuluh darah di bahu. Kemudian setelah itu akan dibuatkan akses yang permanen di pembuluh darah lengan.

Komplikasi selama melakukan cuci darah antara lain tensi yang turun (hipotensi), kram otot, mual dan muntah, sakit kepala, sakit dada, sakit punggung, gatal, demam, dan menggigil.

Sebagian besar hemodialisis dilakukan 2 kali dalam seminggu dengan waktu kurang lebih 5 jam setiap tindakan hemodialisisnya. Ada pun yang merekomendasikan 3 kali dalam seminggu dengan waktu 3-4 jam.

 

Last Updated on Thursday, 15 November 2012 13:56

You are here: Artikel Cuci Darah